Pages

Frightening moment

0 komentar
-->
Frightening moment

                      
  That is the first time I ever seen a human possessed, I mean I saw it in front of my eyes not watched it from television or heard story from my friend. Honestly it really scare me out, spooky !!!
                        When that event happened, I was in senior high school grade 2. Our class was very noisy because there is no teacher but our homeroom teacher suddenly come and enter our class. She started to talked about our point in grade 1 and she very proud of it and i feel really strange that day because my friend who always make noise and joking around with our homeroom teacher only sitting in his place, listened like all of my friend and atmosphere in my class was really scary. There is something that shouldn’t be in our classroom that is what I was though.
                       
Suddenly, we heard a noisy voices came from upper class. We run to the window and saw a girl carried by many students but she was struggling to get loose, she was possessed and she carried to the medical room. All of us was extremely shocked and suddenly my friend who sit in the back was possessed too. She started to slam the table or everything in front of her. We all frightened and came out from the class, left my friend who possessed behind.
                        One of our teacher enter our class and helped my friend then almost all of the students in my school got possessed. My friend who standing right beside me hold my hand very tight until I felt pain. She was crying and said that she really scared, I’m trying to make her calm down and I accompany her to her house. That day we asked to go home immediately before something bad happened.
                        It continued in tomorrow morning, in Friday. I though everything was fine and didn’t happened like yesterday anymore but I was wrong, it happened again. When all of the students gather around in the field to do a gymnastic together, the girl who standing in front of me screamed. I was surprised and I looking at the students in back of me, almost of them got possessed, again . . .
                        I walked to my class to get my bag but I saw my friend sitting alone in a stair which lead to upper class, I approached to her and shake her body but she didn’t give response. I’m getting closer to her and suddenly she choked my neck and scream something like “I will kill you”
                        I can’t breathe and my vision started to blur. One of my teacher saw us and he try to pulled out my friend’s hand from my neck. It worked and my friend carried away to the medical room. I though I will die that time. She really scare me out, then me with still felt frightened, take my bag and go home quickly.

Sad moment

0 komentar
-->
Sad moment

                   
Actually I didn’t think this is the sad moment that I have because my family said that I’m the human who never have feeling, the coolest human in the world and I really the foolish human. Didn’t say anything to my father when he left us to go work. It was begin 3 or 4 years ago, he was talking to my mother in the room and we were watched television. I stand up and go to my room because I’m getting bored and I’m started read a comic. I saw my father passing through my room and he walked to terrace and started smoking while read a newspaper.
                   I came out from my room and talking with my father about my college, he said that he want me after finished my college, I had to get the scholarship and continue my study abroad. Honestly I don’t want it because I’m really tired in studying anymore, I wish after I finished my college. I can get a job and get money from my hard work but I don’t want to disappoint my father so I have to try hard to do what he want.
          In the night, my father was packed his clothes and stuff, I was wandering why he packed his clothes then I asked him but he didn’t answer me then I’m asking my mother and she said that he will left us to find a better job. It was like there is a big hammer hit my head, it was made me shocked. Can you imagine my father will leave us alone after he spend his time together with us for a long time?
        
  I can’t imagine it, really can’t imagine it. Then after my mother tell that he will left, I never talked to him anymore, I don’t know what I must say to him. All I know that time is I really hated him, hated him so much. I never imagine even think about he will left so easily like that.
          And tomorrow is the last day I’ve seen him, when the time that he will go. He came to me and talked to me face to face. He said to me : “don’t be sad, I know you mad at me but this is something that I have to do. You have to be a strong girl. Soon I will be back so wait for me, okay?”
         
I stared at him without saying anything, he smiled and clap my head then he carry his bag and walked to the front door. He will go and I still standing right in my place, how foolish I am and all I do is only looked him when he left while I keep said in my heart that he will be back soon. . .
And that never happened until now.
I never though that will happened in my life . . .

My Novel

0 komentar
-->
BAB 1
( THE BEGINNING )


Awal dari kehidupan sejati
Yang diberikan Tuhan kepadamu
Jalani semuanya dengan canda dan tawa
Karena kita tidak tau kapan dunia akan berakhir
(Life isn’t about finding yourself. Life is about creating yourself_unknown)

          Seorang lelaki bertopi memperhatikan selembar foto yang ada di tangannya, hatinya gelisah. Sekitar 10 menit yang lalu ia diperintahkan untuk menjalani tugas dari pimpinannya, tugas yang amat sangat berat menurutnya tapi mau tidak mau ia harus menjalani tugas itu.
          Ia menghembuskan napasnya dan sekali lagi memperhatikan dengan cermat foto tersebut. Andai saja ia bisa menolak, ia akan menolak tapi tentu saja itu diluar kuasanya. Ia memasukkan foto itu kedalam kantong celananya dan menurunkan topinya sampai menutupi matanya kemudian mulai berjalan.
          15 menit berjalan kaki, ia sampai di café “Fantasia” dan masuk ke dalam. Lonceng kecil yang dipasang disudut pintu berbunyi saat ia membuka pintu. Di salah satu sudut café, ada seorang lelaki berkacamata yang telah menunggunya.
          Menurut pimpinannya, orang ini akan memberikan penjelasan mengenai apa yang akan ia lakukan pada tugasnya kali ini serta memberikan berkas – berkas yang mungkin akan ia perlukan.
          Ia menghampiri lelaki berkacamata itu.
          “Maaf saya terlambat” ucap lelaki bertopi itu sambil membungkukkan badannya.
          “Tidak pa – pa. Silahkan duduk”
Lelaki itu menunjuk kursi yang ada di depannya dengan dagu. Lelaki bertopi itu menarik kursi dan menghempaskan badannya.
“Jadi?”
“Ini berkas untuk misimu selanjutnya dan ini semua peralatan yang akan kamu pakai dalam misi ini”
Lelaki bertopi itu melirik kumpulan berkas serta 1 buah tas ukuran sedang yang diberikan padanya dan ia menghela napas panjang.
“Ada apa?”
“Tidak . . .” ucapnya sambil menggeleng pelan. Lelaki berkacamata itu menatapnya dengan tatapan curiga tapi ia kembali berbicara.
“Jangan sampai gagal dalam misi ini. Jika ada satu yang gagal maka semuanya akan selesai, musuh bisa saja mengetahui semuanya dan pimpinan sangat tidak mengharapkan itu semua terjadi . . .”
Lelaki bertopi itu mengangguk setuju, ia mengambil berkas yang ada di depannya dan membaca sekilas.
“. . . namamu untuk misi kali ini adalah Rio, semua data diri termasuk KTP, paspor, surat keterangan dan yang lain sudah ada di dalam tas itu” kata lelaki berkacamata itu sambil menunjuk tas yang ada di depannya.
“Apa semua jelas?” ia menatap lelaki bertopi yang ada di depannya dengan tajam.
Yang ditatap mengangguk dan mengambil tas lalu berjalan keluar.

***

“Raeee . . .!!!”
Rae menoleh, melihat seorang cewek bersweater kuning berlari menghampirinya.
“Hum?”
“Hosh, hosh, hosh . . .sebentar” cewek sweater kuning itu mengangkat tangannya, memberi isyarat bahwa ia sedang mengumpulkan napas “kamu mau kemana? Bukannya kita janjian pulang bareng?”
Rae menatap datar cewek di depannya.
“Aku ada kegiatan klub” kata Rae datar.
“Lhoooo? Jadi aku gimana?” wajah cewek itu memelas.
“Pulang” jawab Rae santai
          “Huh . . . kenapa sih kamu gak bisa bolos sehari aja? Aku udah nungguin hari ini, masa kamu tega biarin aku pulang sendiri?” rengek cewek itu.
          Rae menghela napas, selalu seperti ini sejak ia pacaran dengan cewek manja di depannya sekitar 1 tahun yang lalu.
          “Misa . . .” nada suara Rae menjadi pelan dan ia menatap Misa dengan pandangan dingin. Misa terperangah tapi hanya sedetik, jika Rae sudah menatapnya seperti itu artinya ia benar – benar serius.
          Tapi Misa mengacuhkan “sinyal bahaya” yang diberikan Rae padanya, ia malah menatap Rae tepat di bola matanya, menantang dan hal ini baru pertama kali ia lakukan. Melihat Misa bersikeras seperti itu, Rae menghentikan tatapan “membunuh”-nya.
          “Pulang . . . !” tegasnya sekali lagi.
          “Gak mau” dan lagi – lagi Misa bersikeras, ia menggelengkan kepalanya kuat – kuat. Rae menatap Misa dengan pandangan yang sulit diartikan kemudian ia membalikkan badannya dan berjalan pergi.
          Misa menghela napas, sudah tidak kaget lagi dengan tingkah laku Rae yang dingin dan cuek. Ia pun melangkah gontai, berjalan kaki menuju rumahnya.

***

          Rae mengambil hpnya yang bergetar, ia memencet tombol hijau dan menempelkan benda itu ke telinganya.
          “. . . aku mengerti” Rae menutup hpnya dan berbelok. Kali ini tujuannya bukan ruang klubnya tapi tempat lain.
          Rae sampai di sebuah losmen yang tidak terlalu besar, ia melangkah masuk ke dalam dan sang penjaga losmen menyambutnya.
          “Anda sudah ditunggu. Silahkan langsung ke dalam” ucap penjaga itu sopan.
          Rae mengangguk, ia berjalan ke arah koridor dan berbelok ke kiri. Sampai di tempat tujuannya, ia langsung membuka pintu dan melangkah masuk lalu duduk di sofa.
          “Kelakuanmu sama seperti dulu. Benar – benar tidak sopan” ucap seseorang di depannya.
          Rae tersenyum sinis.
          “Gini – gini aku juga berguna bagimu”
          Orang di depannya menghela napas.
          “Jadi? Ada apa?”
“Jaringan computer utama rusak, ada yang menghack jaringannya jadi bisa disimpulkan informasi kita telah bocor ke tangan musuh”
Rae tersentak kaget.
“Apa? Kenapa bisa?”
“Orang – orang dalam lalai. Mereka baru sadar setelah 5 menit sudah di hack. Musuh sepertinya mempunyai hacker yang handal”
“Sial . . .” Rae memukul meja yang ada di depannya.
“Berapa persen informasi kita yang telah dikumpulkan musuh?” lanjutnya bertanya.
“Sekitar 78%”
Rae meneguk ludahnya, ia berpikir keras. Tiba – tiba ia bangkit berdiri.
“Kita ke markas sekarang”
Orang yang berbicara dengannya terkejut.
“Apa yang mau kamu lakukan?”
“Aku akan berusaha menghack ke pusat jaringan musuh dan menghapus semua datanya” jawab Rae singkat.

***

Sementara itu di tempat berbeda tapi di waktu yang sama, Misa yang sedang asik bermain game menggerutu saat ibunya menyuruhnya pergi belanja kebutuhan dapur. Maka mau tak mau ia bangkit dan mengganti bajunya kemudian berjalan keluar.
“Ah . . . kenapa di cuaca sepanas ini aku harus pergi belanja sih?” ucap Misa kesal, ia memperhatikan daftar belanjaan yang diberikan ibunya.
“Hum . . . daging 2 kg, bawang, merica, cabe, . . .” Misa yang sibuk memperhatikan daftar di depannya tidak melihat jalan dan tidak bisa dihindari, ia menabrak seseorang di depannya.
Bruuuk . . .
“Aduh . . . maaf” ucap Misa sambil mengusap hidungnya.
“Aku yang seharusnya minta maaf. Kamu tidak apa – apa?” ucap seorang cowok berambut putih. Misa terpana melihatnya, rambutnya yang putih serta bola matanya yang berwarna hijau kebiru – biruan sangat cocok dengan wajah yang ia miliki. Ia terlihat seperti malaikat tanpa sayap.
“Halo . . .” cowok itu melambaikan tangannya di depan wajah Misa, bingung karena Misa tidak merespon ucapannya tadi. Misa yang tersadar langsung memalingkan mukanya, menyembunyikan rona merah yang menghiasi pipinya.
“Hum . . . apa ada yang terluka? Apa perlu aku antar sampai rumah?” tanya cowok itu sekali lagi.
Misa menggeleng kuat “gak, aku gak apa – apa” jawabnya sambil berdiri.
“Aku benar – benar minta maaf” ucap cowok itu sungguh – sungguh. Misa tersenyum kecil.
“Gak pa – pa. Aku juga yang salah karena aku tidak memperhatikan jalan”
“Kalo aku boleh tau, kamu mau kemana? Aku bisa mengantarmu sebagai permintaan maafku”
Misa terkejut, ia segera menggelengkan kepalanya dengan cepat “gak usah, ngerepotin ajah”
“Tolong jangan ditolak. Aku tidak menerima penolakan” kata cowok itu sambil tersenyum.
Lagi – lagi rona merah di pipi Misa muncul dan ia menganggukkan kepalanya.
“Baiklah . . . aku harus pergi ke pasar karena aku disuruh ibu membeli bahan makan buat makan malam” ucap Misa sambil memperlihatkan daftar di tangannya.
Cowok di depannya tersenyum geli saat melihat Misa memperlihatkan daftar itu.
“Misa anak yang rajin yah” pujinya. Misa tersenyum kecil mendengar pujian cowok itu.
“Baiklah, ayo kita pergi” ucap cowok itu sambil berjalan
“Ayo . . .”
“Sebentar” cowok itu berhenti mendadak. Misa yang melihatnya menjadi aneh, ia mengkerutkan keningnya.
“Ada apa?”
Cowok itu menggeleng “ah, tidak . . . aku hanya lupa memperkenalkan diri. Nama ku Rio, namamu?”
“Panggil aku Misa”
“Ah, Misa . . . senang berkenalan denganmu”
“Aku juga”

***
          Rae sampai di sebuah gang kecil yang sangat gelap, disana ia berlari menuju ujung jalan dan menekan sebuah tombol yang tak kelihatan di dinding sebelah kirinya, dinding di depannya terbuka dan ia berlari ke dalam.
“Rae . . . !” seseorang di dalam sana berseru memanggil namanya.
“Apa statusnya?” tanya Rae sambil berjalan menghampiri komputer di sudut ruangan.
“Buruk. Lokasi kita sudah diketahui oleh musuh”
Rae berdecak kesal, ia segera menghidupkan komputernya dan masuk kedalam sistem jaringan. Selama beberapa detik Rae menatap layar komputernya, ia segera memberikan instruksi pada orang di sebelahnya.
“Hapus semua data serta back up-nya. Tinggalkan tempat ini sekarang, jangan sampai informasi yang baru kita dapat diketahui oleh mereka”
“Aku mengerti” orang di sebelah Rae langsung bergerak dan memberitahukan instruksi Rae kepada seluruh orang di ruangan itu. Sementara itu orang yang tadi mengikuti Rae menghampirinya.
“Kita tidak bisa membuat markas cadangan lagi disini”
Rae mengangguk, ia menatap lawan bicaranya.
“Tidak biasanya kejadian seperti ini terjadi. Apa kamu punya informasi?”
Orang di depannya mengangguk pelan.
“Tidak banyak, sepertinya kali ini musuh sangat berhati – hati”
“Apapun akan dia lakukan untuk menghancurkan siapapun yang menghalangi jalannya”
Orang di depan Rae kembali mengangguk, ia kemudian mengeluarkan sebuah flashdisk dan menyerahkannya pada Rae.
“Baru ini informasi yang kudapat”
Rae menghela napas, ia menatap flasdisk itu dan melirik jam dinding sekilas dan ia kembali menghela napas.
“Ada apa? Kamu memikirkan Misa?”
Tubuh Rae menegang ketika mendengar nama Misa disebut. Ia tidak menjawab pertanyaan rekannya dan kembali fokus pada komputer di depannya.

***

Misa melirik jam di hpnya, ia mendesah kecewa saat melihat tidak ada sms atau telepon dari Rae.
“Sini kubawakan belanjaanmu” ucap Rio mengulurkan tangannya tapi Misa tidak bereaksi, pikirannya masih sibuk memikirkan Rae.
“Misa . . .?” Rio mendekatkan wajahnya, menatap mata Misa lekat. Misa terkejut, dalam sekejap pipinya berubah merah. Rio tersenyum tipis melihat perubahan itu.
“Mikirin apa?”
“Gak lagi mikir apa – apa kok” jawab Misa sambil menggeleng, ia memaksakan seulas senyum di bibirnya tapi Rio bisa melihat kepura – puraan itu. Ia menghela napas dan beranjak pergi.
“Mau kemana?”
“Kamu tunggu disini sebentar, aku akan segera kembali”
Misa mengkerutkan keningnya tapi akhirnya ia mendekati dinding toko, menaruh kantong belanjaan dan bersandar di dinding tersebut. Berapa lama kemudian Rio kembali dengan 2 es krim di tangan.
Misa tersenyum lebar, es krim adalah makanan favoritnya dan lagi bisa membuat moodnya berubah menjadi baik.
“Nih . . .” Rio mengulurkan tanganya, memberikan es krim pada Misa.
“Ah, makasih . . .” Misa menerima es krim itu dengan senang hati. Ia segera menjilat es krimnya. Menikmati ketika cairan dingin itu lumer di mulutnya.
Rio tersenyum melihat Misa yang begitu menikmati es krimnya. Dengan cepat es krim di tangannya sudah habis. Misa terperangah.
“Cepet bener? Aku punya belum habis”
Rio tersenyum “aku akan menunggumu” ucapnya dengan nada sabar. Misa tersenyum malu, ia kembali menjilat es krimnya.
“Kamu tau dari mana kalo aku suka es krim?”
Rae mengangkat alisnya.
“Bukannya rata – rata cewek suka es krim? Seperti kamu”
“Ah, iya juga ya” Misa membenarkan pernyataan Rio. Tak lama es krim di tangan Misa habis, Rio yang melihat itu langsung mengulurkan tangannya. Mengambil kantong belanja Misa.
“Eh, gak usah. Ngerepotin kamu ajah” tolak Misa serta merta. Rio tersenyum geli melihat tangan Misa menahan tangannya.
“Kamu masih ingat apa yang aku bilang tadi?”
Misa berpikir sejenak dan ia menggelengkan kepalanya.
“Yang mana?”
“Aku gak terima penolakan” ucap Rio santai. Misa tersenyum pasrah, akhirnya ia membiarkan Rio membawa kantong belanjaannya.
“Jadi kamu mau kemana lagi?”
“Pulang deh. Bentar lagi malem”
“Baiklah” Rio mengangguk dan berjalan mengikuti Misa.

***

Keesokkan harinya di sekolah, Misa berjalan menuju kelas Rae. Ia mengintip sebentar dan meneliti satu persatu wajah – wajah yang ada di kelas tersebut tapi Rae tidak ia temukan.
‘Rae kemana ya?’ batin Misa, ia menatap kotak bekal yang dibuatnya tadi subuh. Misa mendesah kecewa.
‘Padahal aku pingin makan bareng’ batinnya lagi, ia pun melangkah gontai meninggalkan kelas Rae.
“Misa?”
Misa menghentikan langkahnya, ia berbalik dan mendapati Rae berdiri di belakangnya.
“Ada apa?”
“Kita makan siang bareng yuk”
Rae menatap kotak bekal yang dibuat Misa dan ia tersenyum tipis. Tangannya menepuk lembut kepala Misa.
“Ayo . . .”
Misa tersenyum lebar, mengikuti langkah kaki Rae yang menuju atap sekolah. Sesampainya di atap, mereka berdua duduk di pinggir pagar gedung. Misa segera membuka kotak bekalnya dan memberikannya pada Rae.
“Nih . . .”
Rae mengambilnya sambil tersenyum dan ia makan dalam diam.
“Gi – gimana? Enak?” tanya Misa ragu – ragu.
Rae menatap Misa sebentar dan tertawa kecil.
“Enak . . .”
“Syukurlah” ucap Misa tersenyum lega. Saat Rae ingin menyuapkan sendok ke mulutnya, hpnya bordering. Misa mengkerutkan keningnya saat Rae meletakkan sendoknya dan mengambil hp.
“Halo . . .” Rae diam mendengarkan perkataan orang yang meneleponnya, setelah selesai. Ia memasukkan hpnya kedalam kantong dan menatap Misa yang sedang tertunduk sedih.
“Maaf, aku harus pergi” ucap Rae menyesal. Misa mengangkat kepalanya dan berdiri.
“Kamu mau kemana sih? Padahal hari ini aku baru bisa makan bareng kamu. Setiap kali kita ketemu pasti kamu sibuk terus, kamu lebih pentingin yang mana sih?” ucap Misa tertahan, ia bersiap untuk menangis. Rae menatap Misa dengan pandangan bersalah, ia maju dan tangannya terulur. Ingin menyentuh wajah Misa tapi Misa mundur selangkah, Rae yang melihat penolakan Misa mengurungkan niatnya. Ia menundukkan kepalanya.
“Maaf . . .” Rae berbalik dan berjalan menuju pintu. Misa langsung menangis saat Rae berjalan meninggalkannya.
“Kumohon Rae, jangan pergi” pinta Misa memelas. Tubuh Rae menegang mendengar permohonan Misa, ia berbalik dan berjalan perlahan mendekati Misa dan ia menarik Misa kedalam pelukannya. Misa terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari Rae.
“Ra – Rae?”
“Maaf, aku benar – benar harus pergi Misa”
Misa mendesah kecewa, air matanya kembali jatuh dan dengan keadaan terpaksa ia menganggukkan kepalanya. Rae hanya tersenyum datar, ia melepaskan pelukannya dan mencium kening Misa.
“Aku akan meneleponmu segera setelah urusanku selesai”
Misa mengangguk lemah.

***

Rae bergerak cepat meninggalkan sekolahnya, ia membuka hpnya dan mengaktifkan fitur GPS. Beberapa menit kemudian, titik merah muncul, berkedap – kedip. Setelah memastikan posisi pasti titik merah tersebut. Rae memencet beberapa tombol dan berbicara lewat speaker.
“Aku menuju posisi, segera ke titik pertemuan”
Rae menutup hpnya dan langsung berlari pesat menuju tempat pertemuan. Sekitar 15 menit Rae sampai di sebuah taman, ia mengambil sebuah earphone dan menempelkannya di telinga. Tak lama sambungan telepon ke rekannya tersambung.
“Aku di posisi”
“Aku juga”
“Aku juga”
“Aku juga”
Rae tersenyum kecil, ia berjalan menuju sebuah pohon besar dan sembunyi di baliknya. 3 menit kemudian, 3 orang lelaki berjas muncul agak jauh dari pohon tempat Rae bersembunyi,
‘Sial, aku tidak bisa mendengar percakapan mereka’ batin Rae berdecak kesal. Ia berbicara lewat earphone di telinganya.
“Siapa posisi yang paling dekat dengan target?”
Salah satu rekan Rae menjawab.
“Aku yang paling dekat”
“Rekam percakapan mereka”
“Baik”
Selama 8 menit memperhatikan targetnya, Rae menghentikan pengamatannya karena 3 orang tersebut sudah berpisah.
“Percakapan mereka sudah direkam?”
“Sudah . . .”
“Bagus, kita segera ke markas”
Rae tersenyum puas, ia mencopot earphonenya dan berjalan santai menuju lokasi markasnya. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah notes kecil, saat mengeluarkan notes itu, hpnya terjatuh. Tutupnya terbuka, memperlihatkan foto dirinya serta Misa. Rae tertegun, ia menghela napas dan mengambil hpnya. Tapi hpnya bergetar, ada seseorang yang meneleponnya.
“Aku di perjalanan menuju markas. Ada informasi baru?”
“Pemimpin menerima orang baru” jawab lawan bicaranya.
‘Orang baru? Dalam kondisi seperti ini? Apa yang dipikirkannya?’ batin Rae, keningnya berkerut. Ia melirik jam tangannya.
“Aku akan segera sampai, siapkan datanya, aku ingin tau latar belakangnya” ucap Rae tegas.
“Siap . . .!”
Rae segera bergerak cepat, ia memasukkan hpnya kedalam kantong lalu mencatat sesuatu di notesnya kemudian ia melangkah maju saat lampu lalu lintas menyala merah. Ia merasakan firasat buruk saat rekannya bilang ada orang baru yang bergabung dalam tim mereka.
Tak lama, ia sampai di sebuah gang kecil. Ia menekan tombol yang tak kelihatan dan dinding batu di depannya terbuka. Ia pun melangkah masuk.
“Rae !!!” seru rekannya saat ia melihat Rae berjalan ke arahnya.
“Mana datanya?”
“Ini” ucap rekannya sambil menyerahkan sebuah map.
Rae mengambilnya dan tubuhnya menegang ketika melihat foto yang tercetak di halaman pertama.
“Tidak mungkin. Seharusnya dia sudah mati waktu itu” gumam Rae. Ia menatap rekannya.
“Dimana dia?”
“Aku disini” ucap seseorang.
Rae menoleh dan melihat seorang perempuan berdiri di sampingnya.
“Hai . . .”
Rae tersenyum tipis “Ternyata kau bukan orang yang bisa mati semudah itu”
“Yah . . . kau benar” ucap perempuan itu sambil berjalan mendekati Rae kemudian ia melanjutkan kalimatnya.
“Bagaimana kabarmu?”
“Seperti yang kau lihat . . .” ucap Rae sambil mengangkat bahunya
Perempuan di depannya tersenyum, ia menatap Rae lama dan mengkerutkan keningnya lalu tersenyum lebar.
“Ah . . . apa kau sudah punya pacar Rae?”
Rae terkejut, ia memalingkan mukanya. Perempuan itu tertawa geli.
“Ada, namanya Misa. Anaknya manis, Rae pernah mengenalkannya pada kami” jawab salah seorang rekan Rae.
“Ah . . .” perempuan itu menatap Rae dengan penuh selidik. Rae langsung menatap tajam rekannya tersebut, yang ditatap meneguk ludahnya dan dengan perlahan meninggalkan ruangan. Rae menatap tak suka perempuan di depannya yang sibuk tertawa kecil.
“Hentikan, Lucita”
“Hehehehe . . .” Lucita menghiraukan tatapan tajam Rae.
“Lucita . . .” ucap Rae sekali lagi tapi dengan nada dingin. Lucita buru – buru menutup mulutnya dengan tangannya.
“Kau masih saja dingin seperti dulu”
“Cih . . .” Rae memalingkan mukanya dan berjalan keluar. Lucita tersenyum melihat tingkah laku Rae.

*****











BAB 2
( WHEN HE MET HER )

Takdir terkadang lucu
Ia bisa mempertemukan seseorang dengan pasangannya
Tapi ia juga bisa menunda pertemuan tersebut
Bahkan tidak mempertemukan mereka sama sekali
Karena dalam hal ini, takdir yang punya kendali
(You know you're in love when you don't wanna go to sleep at night because your life is better than a dream_Unknown)



Rae membuka pintu kamar kosnya, ia berjalan menuju kulkas kecil di sudut kamar dan mengambil sebotol air mineral kemudian menghabiskan isinya dengan cepat. Ia menghampiri kasur kecilnya dan menjatuhkan badannya disana. Hari ini ia sangat lelah, hampir seharian tadi ia mengecek semua informasi yang masuk bahkan tidak sempat makan apa – apa. Seharian duduk di depan komputer membuat kepalanya terasa sangat pusing, ia melihat sekeliling kamarnya.
Jarang sekali ia tinggal disini, ia lebih sering tinggal di markas atau rumah rekannya dikarenakan tugas yang harus ia selesaikan, tak sengaja matanya tertuju pada foto dirinya dan Misa yang ditaruhnya di atas meja kecil, ia meneguk ludahnya dan menutup matanya dengan lengan kiri. Berbagai memori masa lalunya mulai bermunculan terutama memori saat ia bertemu dengan Misa.
Semua itu dimulai satu tahun yang lalu. Rae yang baru pulang dari menyelesaikan misinya melihat Misa sedang menangis sendiri di salah satu bangku taman, Rae hanya meliriknya dan menghiraukan Misa. Ia berbelok dan menguap lebar kemudian berhenti di salah satu mesin minuman kaleng.
Rae memasukkan koin dan memencet salah satu tombol lalu mengambil minuman kaleng yang keluar, ia berjalan menyebrang jalan tapi sayang, ia tak melihat mobil yang melaju kencang. Rae terkejut, ia tidak bisa menghindar lagi dan ia menutup matanya. Pasrah.
“AWAAAS . . . !!!”
Bruuuuuuk . . .
Rae merasakan ada yang menabraknya dari depan dan punggungnya terasa sakit, ia pelan – pelan membuka mata.
“Ka – kau . . .”
Rae terkejut ketika mendapati Misa ada di depannya. Misa tersenyum tipis, butir – butir air mata masih tersisa di matanya, ia buru – buru berdiri.
“Kamu gak pa – pa?” ucap Misa sambil mengulurkan tangannya.
Rae memalingkan mukanya dan berdiri, mengacuhkan uluran tangan Misa.
“Thanks . . .” ucapnya sambil berjalan meninggalkan Misa.
“Hei, kamu mau kemana?” Misa berlari kecil, berusaha mengikuti langkah kaki Rae.
“Jangan ikuti aku” tegas Rae.
Misa terdiam, wajahnya berubah sendu.
“A – aku mengerti . . .” Misa berbalik dan berjalan tapi baru beberapa langkah, ia berhenti dan menatap Rae.
“Hati – hati” ucapnya sambil tersenyum. Rae merasakan tubuhnya menegang, ia terdiam lama dan mengangguk kecil kemudian kembali berjalan.

***

Misa kembali ke bangku taman tempatnya semula, ia menaikkan kakinya dan menyembunyikan wajahnya disana. Ia kembali menangis, menangis sejadi – jadinya. Sampai beberapa menit kemudian ia jatuh tertidur karena kelelahan.
Misa merasakan selimut lembut menutupi tubuhnya, kepalanya sangat pusing. Ia membuka matanya perlahan dan tidak mengenali ruangan dimana ia berada.
“Di – dimana ini?”
Misa bangkit dari kasurnya dan berjalan pelan menyusuri jendela yang terbuka di sebelahnya, angin malam berhembus lembut menerpa dirinya. Ia mengusap lengannya sendiri, kedinginan.
“Fuuuh . . . dingin” ucapnya menggigil, tiba – tiba ia merasa ada seseorang yang menyelimuti tubuhnya dengan selimut tebal. Ia menoleh kebelakang dan Rae berdiri di depannya.
“Kalo emang dingin, kenapa malah dekatin jendela?” tanya Rae.
Misa terkejut, ia mundur selangkah.
“Ke – kenapa kamu bisa disini?”
“Hum? Kenapa?” Rae mengangkat alisnya dan melanjutkan kalimatnya
“Karena ini kamarku”
Misa terperangah dan ia menjadi salah tingkah.
“Ma – maaf . . . aku akan segera pergi. Maaf telah merepotkanmu” ucapnya sambil berjalan menuju pintu. Rae terperangah tapi hanya sedetik, secepat kilat ia menarik tangan Misa. Menahannya untuk pergi.
“Ke – kenapa?”
“Aku gak marah, semua ini kulakukan sebagai ucapan terima kasih” jawab Rae santai.
Misa menunduk, ia mengangguk pelan.
“Baiklah . . . aku Rae. Namamu?”
“Kamu bisa memanggilku Misa”
“Misa . . .” Rae mengangguk pelan, ia melanjutkan kalimatnya “aku sangat lapar. Kau bisa masak sesuatu?”
Misa mendongak, menatap Rae dengan tatapan tak percaya tapi ia kembali menundukkan kepalanya. Kening Rae berkerut melihat tingkah laku Misa, ia berjongkok di depan Misa agar bisa melihat wajahnya. Misa terkejut, seketika ia mundur selangkah.
“A – aku bisa masak tapi yang sederhana saja”
“Gak pa – pa. Lagian aku tidak punya banyak bahan makanan. Ikuti aku” ucap Rae sambil berdiri dan berjalan menuju dapur. Misa segera mengikuti Rae, ia merasa aneh dengan keadaan rumah yang sangat sepi. Sepertinya hanya mereka berdua yang berada di rumah tersebut.
“Hum . . . kamu tinggal sendiri di sini?”
Rae mengangguk.
“Aku diangkat anak oleh seorang pengusaha tapi sebagai balasannya, aku harus melakukan apa yang dia mau”
“Hah? ‘apa yang dia mau?’ ” ulangnya. Rae berbalik dan menatap Misa tepat dimatanya dan tersenyum dingin.
“Mau tau?”
Misa menggeleng cepat. Ia segera mengubah topik pembicaraan.
“Apa bahan makanan yang kamu punya?”
Rae tersenyum kecil menyadari Misa mengubah topik, ia berjalan menghampiri kulkas dan memeriksa isinya.
“Aku hanya punya telur dan sosis” jawab Rae enteng
“Hah? sedikit sekali?”
“Aku gak bisa masak”
Misa mengangguk – anggukkan kepalanya dengan lambat, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Berpikir akan memasak apa dan tiba – tiba ia tersenyum lebar.
“Kita bikin nasi goreng saja”
Rae menaikkan alisnya “ . . . ‘kita?’ “
Misa mengangguk mantap.
“Kamu bisa membantuku memasak dan aku juga bisa mengajarimu cara membuatnya jadi setidaknya kamu bisa masak sendiri”
Rae memalingkan mukanya.
“Tidak perlu”
“Eh? Kenapa?”
“Cerewet. Cepat masak sana !” ucap Rae dingin. Misa tersentak kaget dan ia menundukkan kepalanya. Rae memasukkan tangannya kedalam saku dan berjalan keluar dapur. Ia menghampiri sebuah sofa dan berbaring disana, lengan kanannya menutup matanya. Beberapa detik kemudian hpnya bergetar, Rae mengambil hpnya dan memencet tombol hijau.
“Aktifkan GPS – mu. Kamu harus segera berada di sana. 5 menit”
Rae menghela napas panjang ‘tidak ada habisnya. . .’ batinnya dalam hati, ia segera mengaktifkan GPS – nya dan titik merah muncul.
‘Dasar gila, jam segini mana ada transportasi yang menuju kesana’ batin Rae kesal, ia berdiri dan mengambil jaket kulitnya lalu berjalan menuju pintu, saat tangannya meraih hendel pintu, Misa muncul di belakangnya.
“Hum? Kamu mau kemana? Nasi gorengnya sudah siap”
“Aku harus pergi. Kau pulang saja”
“Eh? Ta – tapi aku . . .”
“Aku tidak bisa membiarkanmu tinggal disini” ucap Rae dingin.
Misa tertunduk sedih “ba – baiklah . . .”
Ia berjalan pelan menuju pintu dan keluar bersama Rae.
“Tunggu, kamu mau kemana?”
“Bukan urusanmu”
Rae berjalan meninggalkan Misa yang menatapnya dengan sendu.

***

Rae sampai di lokasi pertemuan, ia melihat ada 4 orang yang sudah menunggunya.
“Lama sekali?” gerutu Loki, salah seorang rekan Rae. Rae yang baru sampai langsung menatap tajam Loki.
“A – aku mengerti . . .” ucap Loki sambil menelan air liur.
Rae menghela napas, ia menoleh, berbicara pada Lucita yang berdiri di depannya.
“Ada apa?”
“Salah seorang informan kita ada yang tertangkap”
“Lalu?” tanya Rae cuek.
Lucita mengambil napas dalam - dalam, menyabarkan hatinya. Kalau tidak ia bisa menjitak kepala yang bereskpresi datar di depannya ini, ia kembali melanjutkan kalimatnya.
“Kita harus menyelamatkannya. Ada kemungkinan informasi kita bisa sampai di tangan musuh”
Rae terdiam. Perutnya berbunyi, ia memang belum sempat makan apa – apa seharian ini. Ia menghela napas.
“Aku gak ikut”
“Ra – Rae . . .?” Lucita terkejut mendengar pernyataan Rae barusan
“Kalo hanya 1 orang saja, bisa kalian selamatkan kan?”
“Ta – tapi . . .”
“Kalau tidak cepat, dia bisa dibunuh. Aku serahkan semuanya pada kalian”
“Tu – tunggu, Rae . . . kamu benaran tidak ikut?”
“Jangan bodoh, kalo dari tadi aku mau menyelamatkannya. Aku pasti akan menanyakan lokasinya padamu”
Loki menggeram, menahan amarah dan tanpa Rae sadari, kepalan Loki sudah menempel di pipinya. Rae terlempar beberapa meter dari tempatnya berdiri. 2 orang yang berdiri di belakang terkejut, mereka segera menghampiri Rae dan membantunya berdiri.
“Apa yang kau lakukan?!!! Kenapa malah memukulnya?” seru Lucita
“Aku tidak menyangka kalau seorang pengecut seperti dia bisa menjadi agen 3 tingkat di atas kita” ujar Loki emosi.
Rae tersenyum sinis, ia bangkit dan mengusap pipinya yang lebam.
“Pukulanmu lemah”
Loki terperangah, ia berlari dan hendak memukul Rae lagi tapi ia dihadang oleh Lucita.
“HENTIKAN . . . ! kenapa kalian malah jadi anak kecil seperti ini?” teriak Lucita menahan amarahnya, ia merentangkan tangannya lebar – lebar di depan Rae. Loki terdiam, ia memalingkan mukanya. Rae berdiri dan menepuk bahu Lucita.
“Aku serahkan semuanya padamu” ucapnya, ia pun berjalan pulang.
“Tu – tunggu, RAE . . . !”
Rae mengacuhkan panggilan Lucita, ia malah semakin jauh meninggalkan 3 orang rekannya.

***

“Argh . . . sial, sial, sial, SIAAAL . . . !!!” Loki berteriak sekeras yang ia bisa. Ia menatap Lucita dengan pandangan penuh amarah.
“Kenapa kau menghalangiku untuk memukulnya?”
Lucita melirik Loki.
“Kamu tidak tau apa – apa tentang dia”
Loki naik darah, ia berdiri.
“JELAS aku sangat tau . . . dia cuma seorang pengecut berhati dingin yang tidak tau kesulitan teman – temannya”
Lucita memandang Loki sengit, ia segera berdiri dan menampar Loki.
“Jangan bicara seolah – olah kamu yang paling tau tentang dia” geramnya.
“Aku tidak peduli. Yang aku tau dia hanya seorang PE – NGE – CUT . . .”
“Kau . . .” Lucita bersiap untuk menampar Loki lagi tapi dihalang oleh rekan mereka.
“Kalian berdua, hentikan . . . !!! kita sudah sampai”
Lucita memalingkan mukanya dengan kesal dan mengintip keadaan luar lewat celah jendela. Ia menatap ketiga rekannya
“Kita bergerak sesuai rencana”
Mereka semua mengangguk dan berjalan keluar lewat pintu belakang van. Mereka berjalan menyusuri lorong sempit dan sepi, Lucita yang memperhatikan alat GPS di tangannya mendadak berhenti.
“Kita masuk lewat sini.”
Loki memperhatikan sebuah dinding tebal yang menjulang tinggi di hadapannya. 'Masuk lewat sini? Bagaimana caranya?’ batin Loki, ia melirik ragu ke arah Lucita dan mengangkat sebelah alisnya.
Lucita menarik sebuah batu kecil yang berada di pojok atas sebelah kirinya, tak lama dinding berukuran sedang terbuka di samping mereka. Loki terkejut melihat itu tapi cepat – cepat ia menyembunyikan ekspresinya. Salah seorang rekan mereka bertanya pada Lucita.
“Kenapa bisa ada pintu rahasia disini?”
Lucita menatapnya sebentar lalu mulai menjawab.
“Karena Rae”
Loki yang semula tidak tertarik, mulai memasang telinganya baik – baik.
“Maksudmu?”
Lucita melangkahkan kakinya memasuki lubang yang tadi terbuka.
“Ingat saat ada misi rahasia tingkat Z a-2e?”
Rekannya mengangguk kecil.
“Sebuah misi rahasia yang mengharuskan agen itu dihadapi dua pilihan yang sangat sulit, membunuh dirinya sendiri atau membunuh semua rekan satu timnya”
Lucita mengangguk sambil sekali – kali melihat layar GPS nya.
“Jalan ini adalah jalan rahasia yang dibuat oleh Rae sendiri. Tidak ada seorang pun yang tau meskipun itu adalah pimpinan kita. Hanya beberapa agen yang tau”
“Bagaimana bisa?”
“Karena saat itu Rae mengambil resiko yang sangat besar, saat dirinya tiba untuk memilih dua pilihan itu. Ia mengambil pilihan ketiga yaitu membuat terowongan rahasia ini sendiri dan menyelamatkan rekan – rekan satu timnya”
“Wuah, Rae memang hebat” nada kagum dari kedua rekannya terdengar oleh Lucita, ia memaksakan senyum tipis di bibirnya.
“Dan harga yang harus ia bayar untuk itu adalah menyaksikan seluruh keluarganya mati di depan matanya sendiri”
Seketika kedua orang itu terdiam, tak percaya pada apa yang Lucita katakan. Begitu juga dengan Loki, ia terpana. Lucita terdiam dan kembali melanjutkan ceritanya.
“Saat ia membantu rekannya melarikan diri, kediaman keluarganya dipasang bom. Saat itu ia bisa saja bernegosiasi, menukar kehidupan temannya dengan kehidupan keluarganya . . .” Lucita berhenti sejenak, ia memperhatikan layar GPS nya dan berbelok ke arah kiri.
“. . . tapi Rae mengambil resiko, ia memutuskan untuk menyelamatkan rekannya. Disaat rekannya selamat, Rae mendapat kabar bahwa rumahnya akan meledak sekitar 10 menit lagi. Ia langsung melaju menuju rumahnya tapi hanya tinggal 1 meter lagi ia mencapai rumahnya, rumahnya sudah meledak. Melemparkan tubuhnya jauh beberapa meter. Api membakar habis rumah serta keluarganya. Rae yang melihat itu hanya bisa terdiam. Saat itu sifatnya berubah 180 derajat”
Salah seorang rekan yang berdiri tepat di belakang Lucita meneguk ludahnya perlahan, Lucita tersenyum tipis melihat rekannya. Ia melrik arlojinya.
“Ceritanya cukup sampai disini, kita sudah sampai”
Mereka berempat segera membuka perlahan pintu besi berwarna hijau yang sudah berkarat kemudian masuk satu persatu tanpa menimbulkan suara, di depan mereka ada 4 lorong panjang yang sangat gelap.
“Ia ada di sebuah ruangan di salah satu sudut lorong ini. Sampai disini kita tidak bisa memakai GPS lagi” selesai mengatakan itu, Lucita mematikan GPS nya dan menyiapkan pistol serta senter di tangannya.
“Berpencar . . .”
 Mereka berempat langsung memasuki lorong yang ada di depan mereka.

***

Rae berjalan pelan menuju rumahnya. Dari kejauhan ia melihat seseorang duduk di depan pintu rumahnya, ia menyipitkan matanya.
“Hah? siapa itu? malam – malam datang ke rumah?”
Rae bergerak maju, gerakannya menjadi waspada tapi ketika jaraknya tinggal 1 meter lagi, Rae mendesah panjang.
‘Astaga . . . apa yang dia lakukan disini sih?’ batin Rae, ia menatap Misa yang sedang tertidur pulas di depan pintu rumahnya. Rae menunduk dan terdiam agak lama, ia memperhatikan wajah Misa yang sedang tertidur.
Kemudian dengan perlahan ia meraih tubuh Misa dan menggendongnya lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Rae membaringkan Misa diatas kasurnya dan menutupinya dengan selimut. Setelah itu, ia beranjak ke dapur.
Rae membuka tudung makanan, ia tertegun ketika melihat nasi goreng buatan Misa masih ada di disitu, ia menghela napas ‘aku pikir ia sudah membuangnya’ batinnya lalu ia tertawa kecil. Ia meraih piring nasi itu dan mengambil sebotol sprite dari dalam kulkas lalu ia makan dalam diam.
Saat meneguk spritenya, Rae mendengar suara kecil yang berasal dari ruang tamunya. Ia mendengarkan dalam diam, suara itu kembali terdengar meskipun sangat kecil tapi kali ini diikuti dengan suara langkah kaki. Rae menaruh piring serta botol spritenya, mengambil pisau lalu menyelinap dalam kegelapan.
***

Lucita meneguk ludahnya sendiri, ia sangat benci situasi seperti ini. Mengharuskan dirinya mencari seseorang dalam ruangan gelap dan tak tau jalan mana yang harus ia tuju. Ia menarik napas dalam – dalam dan menghembuskannya dengan kuat. Andai saja GPS bisa dipakai disini, tentu ia tak akan kerepotan seperti ini tapi kenyataannya sinyal GPS langsung hilang saat mereka tiba di depan 4 lorong tersebut. Bukan apa, ia hanya ingin kembali ke ranjangnya yang hangat dan nyaman daripada harus repot mencari seseorang yang tak jelas dimana keberadaannya.
Ia sampai di sebuah jalan bercabang, Lucita bergantian mengarahkan senternya, membiarkan cahayanya menelusuri kedua lorong gelap tersebut. Ia kembali menghembuskan napas dengan kuat. Mempercayai instingnya, ia pun memasuki lorong sebelah kanan
***

Rae perlahan bergerak menyusuri lorong menuju ruang tamu, telinganya mendengarkan dengan seksama. Suara berisik itu kembali terdengar, Rae menyiapkan pisaunya dan langsung melemparkan pisau itu menembus kegelapan, terdengar suara mata pisau menancap di sebuah kayu dan teriakan seorang perempuan. Rae segera menyalakan lampu.
“Ma – maafkan aku” ucap Misa sambil menyatukan kedua tangannya seperti orang berdoa.
Rae menghela napas “Apa yang kau lakukan?”
Misa menunduk, tidak berani menatap mata Rae.
“A – aku hanya ingin keluar. Jika aku terus berada disini, kamu pasti akan marah padahal tadi kamu udah menyuruhku supaya tidak berada disini ta – tapi aku . . .”
Misa tidak meneruskan kalimatnya, air matanya berjatuhan. Ia mulai menangis. Rae menghela napas panjang, ia berjongkok dan menatap wajah Misa.
“Bisa jelaskan dari awal?”
Rae memegang tangan Misa dan menuntunnya ke sofa, ia menjatuhkan badannya dan duduk di sebelah Misa. Siap mendengarkan cerita cewek itu.
“Aku membunuh orang tuaku” Rae kaget mendengar pernyataan Misa barusan tapi cepat – cepat ia menyembunyikan ekspresinya.
“Kejadiannya seminggu yang lalu. Saat aku berjalan pulang ke rumah, ada seseorang yang menculikku. Ia membawaku ke suatu tempat di tengah hutan, aku tidak seberapa tau tempat itu karena selama perjalanan mataku ditutup. Begitu sampai penutup mataku dilepas dan aku dihadapkan dengan kakakku yang sudah lama hilang . . .” Misa menghentikan ceritanya, ia menghapus air matanya dan menghela napas, Rae yang melihat itu berdiri kemudian berjalan menuju dapur.
“Ra – Rae?


Free Popsicle Purple Cursors at www.totallyfreecursors.com