BAB
1
(
THE BEGINNING )
Awal dari
kehidupan sejati
Yang
diberikan Tuhan kepadamu
Jalani
semuanya dengan canda dan tawa
Karena
kita tidak tau kapan dunia akan berakhir
(Life
isn’t about finding yourself. Life is about creating yourself_unknown)
Seorang lelaki
bertopi memperhatikan selembar foto yang ada di tangannya, hatinya gelisah.
Sekitar 10 menit yang lalu ia diperintahkan untuk menjalani tugas dari pimpinannya,
tugas yang amat sangat berat menurutnya tapi mau tidak mau ia harus menjalani
tugas itu.
Ia
menghembuskan napasnya dan sekali lagi memperhatikan dengan cermat foto
tersebut. Andai saja ia bisa menolak, ia akan menolak tapi tentu saja itu
diluar kuasanya. Ia memasukkan foto itu kedalam kantong celananya dan menurunkan
topinya sampai menutupi matanya kemudian mulai berjalan.
15 menit
berjalan kaki, ia sampai di café “Fantasia” dan masuk ke dalam. Lonceng kecil
yang dipasang disudut pintu berbunyi saat ia membuka pintu. Di salah satu sudut
café, ada seorang lelaki berkacamata yang telah menunggunya.
Menurut
pimpinannya, orang ini akan memberikan penjelasan mengenai apa yang akan ia
lakukan pada tugasnya kali ini serta memberikan berkas – berkas yang mungkin
akan ia perlukan.
Ia menghampiri
lelaki berkacamata itu.
“Maaf saya
terlambat” ucap lelaki bertopi itu sambil membungkukkan badannya.
“Tidak pa – pa.
Silahkan duduk”
Lelaki itu menunjuk kursi yang
ada di depannya dengan dagu. Lelaki bertopi itu menarik kursi dan menghempaskan
badannya.
“Jadi?”
“Ini berkas untuk misimu
selanjutnya dan ini semua peralatan yang akan kamu pakai dalam misi ini”
Lelaki bertopi itu melirik
kumpulan berkas serta 1 buah tas ukuran sedang yang diberikan padanya dan ia
menghela napas panjang.
“Ada apa?”
“Tidak . . .” ucapnya sambil
menggeleng pelan. Lelaki berkacamata itu menatapnya dengan tatapan curiga tapi
ia kembali berbicara.
“Jangan sampai gagal dalam misi
ini. Jika ada satu yang gagal maka semuanya akan selesai, musuh bisa saja
mengetahui semuanya dan pimpinan sangat tidak mengharapkan itu semua terjadi .
. .”
Lelaki bertopi itu mengangguk
setuju, ia mengambil berkas yang ada di depannya dan membaca sekilas.
“. . . namamu untuk misi kali ini
adalah Rio, semua data diri termasuk KTP, paspor, surat keterangan dan yang
lain sudah ada di dalam tas itu” kata lelaki berkacamata itu sambil menunjuk
tas yang ada di depannya.
“Apa semua jelas?” ia menatap
lelaki bertopi yang ada di depannya dengan tajam.
Yang ditatap mengangguk dan
mengambil tas lalu berjalan keluar.
***
“Raeee . . .!!!”
Rae menoleh, melihat seorang
cewek bersweater kuning berlari menghampirinya.
“Hum?”
“Hosh, hosh, hosh . . .sebentar”
cewek sweater kuning itu mengangkat tangannya, memberi isyarat bahwa ia sedang
mengumpulkan napas “kamu mau kemana? Bukannya kita janjian pulang bareng?”
Rae menatap datar cewek di
depannya.
“Aku ada kegiatan klub” kata Rae
datar.
“Lhoooo? Jadi aku gimana?” wajah
cewek itu memelas.
“Pulang” jawab Rae santai
“Huh . . .
kenapa sih kamu gak bisa bolos sehari aja? Aku udah nungguin hari ini, masa
kamu tega biarin aku pulang sendiri?” rengek cewek itu.
Rae menghela
napas, selalu seperti ini sejak ia pacaran dengan cewek manja di depannya
sekitar 1 tahun yang lalu.
“Misa . . .”
nada suara Rae menjadi pelan dan ia menatap Misa dengan pandangan dingin. Misa
terperangah tapi hanya sedetik, jika Rae sudah menatapnya seperti itu artinya
ia benar – benar serius.
Tapi Misa
mengacuhkan “sinyal bahaya” yang diberikan Rae padanya, ia malah menatap Rae
tepat di bola matanya, menantang dan hal ini baru pertama kali ia lakukan. Melihat
Misa bersikeras seperti itu, Rae menghentikan tatapan “membunuh”-nya.
“Pulang . . . !”
tegasnya sekali lagi.
“Gak mau” dan
lagi – lagi Misa bersikeras, ia menggelengkan kepalanya kuat – kuat. Rae
menatap Misa dengan pandangan yang sulit diartikan kemudian ia membalikkan
badannya dan berjalan pergi.
Misa menghela
napas, sudah tidak kaget lagi dengan tingkah laku Rae yang dingin dan cuek. Ia
pun melangkah gontai, berjalan kaki menuju rumahnya.
***
Rae mengambil
hpnya yang bergetar, ia memencet tombol hijau dan menempelkan benda itu ke
telinganya.
“. . . aku
mengerti” Rae menutup hpnya dan berbelok. Kali ini tujuannya bukan ruang
klubnya tapi tempat lain.
Rae sampai di
sebuah losmen yang tidak terlalu besar, ia melangkah masuk ke dalam dan sang
penjaga losmen menyambutnya.
“Anda sudah
ditunggu. Silahkan langsung ke dalam” ucap penjaga itu sopan.
Rae mengangguk,
ia berjalan ke arah koridor dan berbelok ke kiri. Sampai di tempat tujuannya,
ia langsung membuka pintu dan melangkah masuk lalu duduk di sofa.
“Kelakuanmu
sama seperti dulu. Benar – benar tidak sopan” ucap seseorang di depannya.
Rae tersenyum
sinis.
“Gini – gini
aku juga berguna bagimu”
Orang di
depannya menghela napas.
“Jadi? Ada apa?”
“Jaringan computer utama rusak, ada yang menghack jaringannya
jadi bisa disimpulkan informasi kita telah bocor ke tangan musuh”
Rae tersentak kaget.
“Apa? Kenapa bisa?”
“Orang – orang dalam lalai. Mereka baru sadar setelah 5 menit
sudah di hack. Musuh sepertinya mempunyai hacker yang handal”
“Sial . . .” Rae memukul meja yang ada di depannya.
“Berapa persen informasi kita yang telah dikumpulkan musuh?”
lanjutnya bertanya.
“Sekitar 78%”
Rae meneguk ludahnya, ia berpikir keras. Tiba – tiba ia
bangkit berdiri.
“Kita ke markas sekarang”
Orang yang berbicara dengannya terkejut.
“Apa yang mau kamu lakukan?”
“Aku akan berusaha menghack ke pusat jaringan musuh dan
menghapus semua datanya” jawab Rae singkat.
***
Sementara itu di tempat berbeda
tapi di waktu yang sama, Misa yang sedang asik bermain game menggerutu saat
ibunya menyuruhnya pergi belanja kebutuhan dapur. Maka mau tak mau ia bangkit
dan mengganti bajunya kemudian berjalan keluar.
“Ah . . . kenapa di cuaca sepanas
ini aku harus pergi belanja sih?” ucap Misa kesal, ia memperhatikan daftar
belanjaan yang diberikan ibunya.
“Hum . . . daging 2 kg, bawang,
merica, cabe, . . .” Misa yang sibuk memperhatikan daftar di depannya tidak
melihat jalan dan tidak bisa dihindari, ia menabrak seseorang di depannya.
Bruuuk . . .
“Aduh . . . maaf” ucap Misa
sambil mengusap hidungnya.
“Aku yang seharusnya minta maaf.
Kamu tidak apa – apa?” ucap seorang cowok berambut putih. Misa terpana
melihatnya, rambutnya yang putih serta bola matanya yang berwarna hijau kebiru
– biruan sangat cocok dengan wajah yang ia miliki. Ia terlihat seperti malaikat
tanpa sayap.
“Halo . . .” cowok itu
melambaikan tangannya di depan wajah Misa, bingung karena Misa tidak merespon
ucapannya tadi. Misa yang tersadar langsung memalingkan mukanya, menyembunyikan
rona merah yang menghiasi pipinya.
“Hum . . . apa ada yang terluka?
Apa perlu aku antar sampai rumah?” tanya cowok itu sekali lagi.
Misa menggeleng kuat “gak, aku
gak apa – apa” jawabnya sambil berdiri.
“Aku benar – benar minta maaf”
ucap cowok itu sungguh – sungguh. Misa tersenyum kecil.
“Gak pa – pa. Aku juga yang salah
karena aku tidak memperhatikan jalan”
“Kalo aku boleh tau, kamu mau
kemana? Aku bisa mengantarmu sebagai permintaan maafku”
Misa terkejut, ia segera
menggelengkan kepalanya dengan cepat “gak usah, ngerepotin ajah”
“Tolong jangan ditolak. Aku tidak
menerima penolakan” kata cowok itu sambil tersenyum.
Lagi – lagi rona merah di pipi
Misa muncul dan ia menganggukkan kepalanya.
“Baiklah . . . aku harus pergi ke
pasar karena aku disuruh ibu membeli bahan makan buat makan malam” ucap Misa
sambil memperlihatkan daftar di tangannya.
Cowok di depannya tersenyum geli
saat melihat Misa memperlihatkan daftar itu.
“Misa anak yang rajin yah” pujinya.
Misa tersenyum kecil mendengar pujian cowok itu.
“Baiklah, ayo kita pergi” ucap
cowok itu sambil berjalan
“Ayo . . .”
“Sebentar” cowok itu berhenti
mendadak. Misa yang melihatnya menjadi aneh, ia mengkerutkan keningnya.
“Ada apa?”
Cowok itu menggeleng “ah, tidak .
. . aku hanya lupa memperkenalkan diri. Nama ku Rio, namamu?”
“Panggil aku Misa”
“Ah, Misa . . . senang berkenalan
denganmu”
“Aku juga”
***
Rae
sampai di sebuah gang kecil yang sangat gelap, disana ia berlari menuju ujung
jalan dan menekan sebuah tombol yang tak kelihatan di dinding sebelah kirinya,
dinding di depannya terbuka dan ia berlari ke dalam.
“Rae . . . !” seseorang di dalam
sana berseru memanggil namanya.
“Apa statusnya?” tanya Rae sambil
berjalan menghampiri komputer di sudut ruangan.
“Buruk. Lokasi kita sudah
diketahui oleh musuh”
Rae berdecak kesal, ia segera
menghidupkan komputernya dan masuk kedalam sistem jaringan. Selama beberapa
detik Rae menatap layar komputernya, ia segera memberikan instruksi pada orang
di sebelahnya.
“Hapus semua data serta back
up-nya. Tinggalkan tempat ini sekarang, jangan sampai informasi yang baru kita
dapat diketahui oleh mereka”
“Aku mengerti” orang di sebelah
Rae langsung bergerak dan memberitahukan instruksi Rae kepada seluruh orang di
ruangan itu. Sementara itu orang yang tadi mengikuti Rae menghampirinya.
“Kita tidak bisa membuat markas
cadangan lagi disini”
Rae mengangguk, ia menatap lawan
bicaranya.
“Tidak biasanya kejadian seperti
ini terjadi. Apa kamu punya informasi?”
Orang di depannya mengangguk
pelan.
“Tidak banyak, sepertinya kali
ini musuh sangat berhati – hati”
“Apapun akan dia lakukan untuk
menghancurkan siapapun yang menghalangi jalannya”
Orang di depan Rae kembali
mengangguk, ia kemudian mengeluarkan sebuah flashdisk dan menyerahkannya pada
Rae.
“Baru ini informasi yang kudapat”
Rae menghela napas, ia menatap
flasdisk itu dan melirik jam dinding sekilas dan ia kembali menghela napas.
“Ada apa? Kamu memikirkan Misa?”
Tubuh Rae menegang ketika
mendengar nama Misa disebut. Ia tidak menjawab pertanyaan rekannya dan kembali
fokus pada komputer di depannya.
***
Misa melirik jam di hpnya, ia
mendesah kecewa saat melihat tidak ada sms atau telepon dari Rae.
“Sini kubawakan belanjaanmu” ucap
Rio mengulurkan tangannya tapi Misa tidak bereaksi, pikirannya masih sibuk
memikirkan Rae.
“Misa . . .?” Rio mendekatkan
wajahnya, menatap mata Misa lekat. Misa terkejut, dalam sekejap pipinya berubah
merah. Rio tersenyum tipis melihat perubahan itu.
“Mikirin apa?”
“Gak lagi mikir apa – apa kok”
jawab Misa sambil menggeleng, ia memaksakan seulas senyum di bibirnya tapi Rio
bisa melihat kepura – puraan itu. Ia menghela napas dan beranjak pergi.
“Mau kemana?”
“Kamu tunggu disini sebentar, aku
akan segera kembali”
Misa mengkerutkan keningnya tapi
akhirnya ia mendekati dinding toko, menaruh kantong belanjaan dan bersandar di
dinding tersebut. Berapa lama kemudian Rio kembali dengan 2 es krim di tangan.
Misa tersenyum lebar, es krim
adalah makanan favoritnya dan lagi bisa membuat moodnya berubah menjadi baik.
“Nih . . .” Rio mengulurkan
tanganya, memberikan es krim pada Misa.
“Ah, makasih . . .” Misa menerima
es krim itu dengan senang hati. Ia segera menjilat es krimnya. Menikmati ketika
cairan dingin itu lumer di mulutnya.
Rio tersenyum melihat Misa yang
begitu menikmati es krimnya. Dengan cepat es krim di tangannya sudah habis.
Misa terperangah.
“Cepet bener? Aku punya belum
habis”
Rio tersenyum “aku akan
menunggumu” ucapnya dengan nada sabar. Misa tersenyum malu, ia kembali menjilat
es krimnya.
“Kamu tau dari mana kalo aku suka
es krim?”
Rae mengangkat alisnya.
“Bukannya rata – rata cewek suka
es krim? Seperti kamu”
“Ah, iya juga ya” Misa
membenarkan pernyataan Rio. Tak lama es krim di tangan Misa habis, Rio yang
melihat itu langsung mengulurkan tangannya. Mengambil kantong belanja Misa.
“Eh, gak usah. Ngerepotin kamu
ajah” tolak Misa serta merta. Rio tersenyum geli melihat tangan Misa menahan
tangannya.
“Kamu masih ingat apa yang aku
bilang tadi?”
Misa berpikir sejenak dan ia
menggelengkan kepalanya.
“Yang mana?”
“Aku gak terima penolakan” ucap
Rio santai. Misa tersenyum pasrah, akhirnya ia membiarkan Rio membawa kantong
belanjaannya.
“Jadi kamu mau kemana lagi?”
“Pulang deh. Bentar lagi malem”
“Baiklah” Rio mengangguk dan
berjalan mengikuti Misa.
***
Keesokkan harinya di sekolah,
Misa berjalan menuju kelas Rae. Ia mengintip sebentar dan meneliti satu persatu
wajah – wajah yang ada di kelas tersebut tapi Rae tidak ia temukan.
‘Rae kemana ya?’ batin Misa, ia
menatap kotak bekal yang dibuatnya tadi subuh. Misa mendesah kecewa.
‘Padahal aku pingin makan bareng’
batinnya lagi, ia pun melangkah gontai meninggalkan kelas Rae.
“Misa?”
Misa menghentikan langkahnya, ia
berbalik dan mendapati Rae berdiri di belakangnya.
“Ada apa?”
“Kita makan siang bareng yuk”
Rae menatap kotak bekal yang
dibuat Misa dan ia tersenyum tipis. Tangannya menepuk lembut kepala Misa.
“Ayo . . .”
Misa tersenyum lebar, mengikuti
langkah kaki Rae yang menuju atap sekolah. Sesampainya di atap, mereka berdua
duduk di pinggir pagar gedung. Misa segera membuka kotak bekalnya dan
memberikannya pada Rae.
“Nih . . .”
Rae mengambilnya sambil tersenyum
dan ia makan dalam diam.
“Gi – gimana? Enak?” tanya Misa
ragu – ragu.
Rae menatap Misa sebentar dan tertawa
kecil.
“Enak . . .”
“Syukurlah” ucap Misa tersenyum
lega. Saat Rae ingin menyuapkan sendok ke mulutnya, hpnya bordering. Misa
mengkerutkan keningnya saat Rae meletakkan sendoknya dan mengambil hp.
“Halo . . .” Rae diam
mendengarkan perkataan orang yang meneleponnya, setelah selesai. Ia memasukkan
hpnya kedalam kantong dan menatap Misa yang sedang tertunduk sedih.
“Maaf, aku harus pergi” ucap Rae
menyesal. Misa mengangkat kepalanya dan berdiri.
“Kamu mau kemana sih? Padahal
hari ini aku baru bisa makan bareng kamu. Setiap kali kita ketemu pasti kamu
sibuk terus, kamu lebih pentingin yang mana sih?” ucap Misa tertahan, ia
bersiap untuk menangis. Rae menatap Misa dengan pandangan bersalah, ia maju dan
tangannya terulur. Ingin menyentuh wajah Misa tapi Misa mundur selangkah, Rae
yang melihat penolakan Misa mengurungkan niatnya. Ia menundukkan kepalanya.
“Maaf . . .” Rae berbalik dan
berjalan menuju pintu. Misa langsung menangis saat Rae berjalan
meninggalkannya.
“Kumohon Rae, jangan pergi” pinta
Misa memelas. Tubuh Rae menegang mendengar permohonan Misa, ia berbalik dan
berjalan perlahan mendekati Misa dan ia menarik Misa kedalam pelukannya. Misa
terkejut mendapat perlakuan seperti itu dari Rae.
“Ra – Rae?”
“Maaf, aku benar – benar harus
pergi Misa”
Misa mendesah kecewa, air matanya
kembali jatuh dan dengan keadaan terpaksa ia menganggukkan kepalanya. Rae hanya
tersenyum datar, ia melepaskan pelukannya dan mencium kening Misa.
“Aku akan meneleponmu segera
setelah urusanku selesai”
Misa mengangguk lemah.
***
Rae bergerak cepat meninggalkan
sekolahnya, ia membuka hpnya dan mengaktifkan fitur GPS. Beberapa menit kemudian,
titik merah muncul, berkedap – kedip. Setelah memastikan posisi pasti titik
merah tersebut. Rae memencet beberapa tombol dan berbicara lewat speaker.
“Aku menuju posisi, segera ke
titik pertemuan”
Rae menutup hpnya dan langsung
berlari pesat menuju tempat pertemuan. Sekitar 15 menit Rae sampai di sebuah
taman, ia mengambil sebuah earphone dan menempelkannya di telinga. Tak lama sambungan
telepon ke rekannya tersambung.
“Aku di posisi”
“Aku juga”
“Aku juga”
“Aku juga”
Rae tersenyum kecil, ia berjalan
menuju sebuah pohon besar dan sembunyi di baliknya. 3 menit kemudian, 3 orang
lelaki berjas muncul agak jauh dari pohon tempat Rae bersembunyi,
‘Sial, aku tidak bisa mendengar
percakapan mereka’ batin Rae berdecak kesal. Ia berbicara lewat earphone di
telinganya.
“Siapa posisi yang paling dekat
dengan target?”
Salah satu rekan Rae menjawab.
“Aku yang paling dekat”
“Rekam percakapan mereka”
“Baik”
Selama 8 menit memperhatikan
targetnya, Rae menghentikan pengamatannya karena 3 orang tersebut sudah
berpisah.
“Percakapan mereka sudah
direkam?”
“Sudah . . .”
“Bagus, kita segera ke markas”
Rae tersenyum puas, ia mencopot
earphonenya dan berjalan santai menuju lokasi markasnya. Ia merogoh saku
celananya dan mengeluarkan sebuah notes kecil, saat mengeluarkan notes itu,
hpnya terjatuh. Tutupnya terbuka, memperlihatkan foto dirinya serta Misa. Rae
tertegun, ia menghela napas dan mengambil hpnya. Tapi hpnya bergetar, ada
seseorang yang meneleponnya.
“Aku di perjalanan menuju markas.
Ada informasi baru?”
“Pemimpin menerima orang baru”
jawab lawan bicaranya.
‘Orang baru? Dalam kondisi
seperti ini? Apa yang dipikirkannya?’ batin Rae, keningnya berkerut. Ia melirik
jam tangannya.
“Aku akan segera sampai, siapkan
datanya, aku ingin tau latar belakangnya” ucap Rae tegas.
“Siap . . .!”
Rae segera bergerak cepat, ia
memasukkan hpnya kedalam kantong lalu mencatat sesuatu di notesnya kemudian ia
melangkah maju saat lampu lalu lintas menyala merah. Ia merasakan firasat buruk
saat rekannya bilang ada orang baru yang bergabung dalam tim mereka.
Tak lama, ia sampai di sebuah
gang kecil. Ia menekan tombol yang tak kelihatan dan dinding batu di depannya
terbuka. Ia pun melangkah masuk.
“Rae !!!” seru rekannya saat ia
melihat Rae berjalan ke arahnya.
“Mana datanya?”
“Ini” ucap rekannya sambil
menyerahkan sebuah map.
Rae mengambilnya dan tubuhnya
menegang ketika melihat foto yang tercetak di halaman pertama.
“Tidak mungkin. Seharusnya dia
sudah mati waktu itu” gumam Rae. Ia menatap rekannya.
“Dimana dia?”
“Aku disini” ucap seseorang.
Rae menoleh dan melihat seorang
perempuan berdiri di sampingnya.
“Hai . . .”
Rae tersenyum tipis “Ternyata kau
bukan orang yang bisa mati semudah itu”
“Yah . . . kau benar” ucap
perempuan itu sambil berjalan mendekati Rae kemudian ia melanjutkan kalimatnya.
“Bagaimana kabarmu?”
“Seperti yang kau lihat . . .”
ucap Rae sambil mengangkat bahunya
Perempuan di depannya tersenyum,
ia menatap Rae lama dan mengkerutkan keningnya lalu tersenyum lebar.
“Ah . . . apa kau sudah punya
pacar Rae?”
Rae terkejut, ia memalingkan
mukanya. Perempuan itu tertawa geli.
“Ada, namanya Misa. Anaknya
manis, Rae pernah mengenalkannya pada kami” jawab salah seorang rekan Rae.
“Ah . . .” perempuan itu menatap
Rae dengan penuh selidik. Rae langsung menatap tajam rekannya tersebut, yang
ditatap meneguk ludahnya dan dengan perlahan meninggalkan ruangan. Rae menatap tak
suka perempuan di depannya yang sibuk tertawa kecil.
“Hentikan, Lucita”
“Hehehehe . . .” Lucita
menghiraukan tatapan tajam Rae.
“Lucita . . .” ucap Rae sekali
lagi tapi dengan nada dingin. Lucita buru – buru menutup mulutnya dengan
tangannya.
“Kau masih saja dingin seperti
dulu”
“Cih . . .” Rae memalingkan
mukanya dan berjalan keluar. Lucita tersenyum melihat tingkah laku Rae.
*****
BAB 2
( WHEN HE MET HER )
Takdir
terkadang lucu
Ia bisa
mempertemukan seseorang dengan pasangannya
Tapi ia
juga bisa menunda pertemuan tersebut
Bahkan
tidak mempertemukan mereka sama sekali
Karena
dalam hal ini, takdir yang punya kendali
(You know you're in love when you don't wanna
go to sleep at night because your life is better than a dream_Unknown)
Rae membuka pintu kamar kosnya,
ia berjalan menuju kulkas kecil di sudut kamar dan mengambil sebotol air
mineral kemudian menghabiskan isinya dengan cepat. Ia menghampiri kasur
kecilnya dan menjatuhkan badannya disana. Hari ini ia sangat lelah, hampir
seharian tadi ia mengecek semua informasi yang masuk bahkan tidak sempat makan
apa – apa. Seharian duduk di depan komputer membuat kepalanya terasa sangat
pusing, ia melihat sekeliling kamarnya.
Jarang sekali ia tinggal disini,
ia lebih sering tinggal di markas atau rumah rekannya dikarenakan tugas yang
harus ia selesaikan, tak sengaja matanya tertuju pada foto dirinya dan Misa
yang ditaruhnya di atas meja kecil, ia meneguk ludahnya dan menutup matanya
dengan lengan kiri. Berbagai memori masa lalunya mulai bermunculan terutama
memori saat ia bertemu dengan Misa.
Semua itu dimulai satu tahun yang
lalu. Rae yang baru pulang dari menyelesaikan misinya melihat Misa sedang
menangis sendiri di salah satu bangku taman, Rae hanya meliriknya dan
menghiraukan Misa. Ia berbelok dan menguap lebar kemudian berhenti di salah
satu mesin minuman kaleng.
Rae memasukkan koin dan memencet
salah satu tombol lalu mengambil minuman kaleng yang keluar, ia berjalan
menyebrang jalan tapi sayang, ia tak melihat mobil yang melaju kencang. Rae
terkejut, ia tidak bisa menghindar lagi dan ia menutup matanya. Pasrah.
“AWAAAS . . . !!!”
Bruuuuuuk . . .
Rae merasakan ada yang
menabraknya dari depan dan punggungnya terasa sakit, ia pelan – pelan membuka
mata.
“Ka – kau . . .”
Rae terkejut ketika mendapati
Misa ada di depannya. Misa tersenyum tipis, butir – butir air mata masih
tersisa di matanya, ia buru – buru berdiri.
“Kamu gak pa – pa?” ucap Misa
sambil mengulurkan tangannya.
Rae memalingkan mukanya dan
berdiri, mengacuhkan uluran tangan Misa.
“Thanks . . .” ucapnya sambil
berjalan meninggalkan Misa.
“Hei, kamu mau kemana?” Misa
berlari kecil, berusaha mengikuti langkah kaki Rae.
“Jangan ikuti aku” tegas Rae.
Misa terdiam, wajahnya berubah
sendu.
“A – aku mengerti . . .” Misa
berbalik dan berjalan tapi baru beberapa langkah, ia berhenti dan menatap Rae.
“Hati – hati” ucapnya sambil
tersenyum. Rae merasakan tubuhnya menegang, ia terdiam lama dan mengangguk
kecil kemudian kembali berjalan.
***
Misa kembali ke bangku taman
tempatnya semula, ia menaikkan kakinya dan menyembunyikan wajahnya disana. Ia
kembali menangis, menangis sejadi – jadinya. Sampai beberapa menit kemudian ia
jatuh tertidur karena kelelahan.
Misa merasakan selimut lembut
menutupi tubuhnya, kepalanya sangat pusing. Ia membuka matanya perlahan dan
tidak mengenali ruangan dimana ia berada.
“Di – dimana ini?”
Misa bangkit dari kasurnya dan
berjalan pelan menyusuri jendela yang terbuka di sebelahnya, angin malam berhembus
lembut menerpa dirinya. Ia mengusap lengannya sendiri, kedinginan.
“Fuuuh . . . dingin” ucapnya
menggigil, tiba – tiba ia merasa ada seseorang yang menyelimuti tubuhnya dengan
selimut tebal. Ia menoleh kebelakang dan Rae berdiri di depannya.
“Kalo emang dingin, kenapa malah
dekatin jendela?” tanya Rae.
Misa terkejut, ia mundur
selangkah.
“Ke – kenapa kamu bisa disini?”
“Hum? Kenapa?” Rae mengangkat
alisnya dan melanjutkan kalimatnya
“Karena ini kamarku”
Misa terperangah dan ia menjadi
salah tingkah.
“Ma – maaf . . . aku akan segera
pergi. Maaf telah merepotkanmu” ucapnya sambil berjalan menuju pintu. Rae
terperangah tapi hanya sedetik, secepat kilat ia menarik tangan Misa.
Menahannya untuk pergi.
“Ke – kenapa?”
“Aku gak marah, semua ini
kulakukan sebagai ucapan terima kasih” jawab Rae santai.
Misa menunduk, ia mengangguk
pelan.
“Baiklah . . . aku Rae. Namamu?”
“Kamu bisa memanggilku Misa”
“Misa . . .” Rae mengangguk
pelan, ia melanjutkan kalimatnya “aku sangat lapar. Kau bisa masak sesuatu?”
Misa mendongak, menatap Rae
dengan tatapan tak percaya tapi ia kembali menundukkan kepalanya. Kening Rae
berkerut melihat tingkah laku Misa, ia berjongkok di depan Misa agar bisa
melihat wajahnya. Misa terkejut, seketika ia mundur selangkah.
“A – aku bisa masak tapi yang
sederhana saja”
“Gak pa – pa. Lagian aku tidak
punya banyak bahan makanan. Ikuti aku” ucap Rae sambil berdiri dan berjalan
menuju dapur. Misa segera mengikuti Rae, ia merasa aneh dengan keadaan rumah
yang sangat sepi. Sepertinya hanya mereka berdua yang berada di rumah tersebut.
“Hum . . . kamu tinggal sendiri
di sini?”
Rae mengangguk.
“Aku diangkat anak oleh seorang
pengusaha tapi sebagai balasannya, aku harus melakukan apa yang dia mau”
“Hah? ‘apa yang dia mau?’ ”
ulangnya. Rae berbalik dan menatap Misa tepat dimatanya dan tersenyum dingin.
“Mau tau?”
Misa menggeleng cepat. Ia segera
mengubah topik pembicaraan.
“Apa bahan makanan yang kamu
punya?”
Rae tersenyum kecil menyadari
Misa mengubah topik, ia berjalan menghampiri kulkas dan memeriksa isinya.
“Aku hanya punya telur dan sosis”
jawab Rae enteng
“Hah? sedikit sekali?”
“Aku gak bisa masak”
Misa mengangguk – anggukkan
kepalanya dengan lambat, ia menggaruk kepalanya yang tak gatal. Berpikir akan
memasak apa dan tiba – tiba ia tersenyum lebar.
“Kita bikin nasi goreng saja”
Rae menaikkan alisnya “ . . .
‘kita?’ “
Misa mengangguk mantap.
“Kamu bisa membantuku memasak dan
aku juga bisa mengajarimu cara membuatnya jadi setidaknya kamu bisa masak
sendiri”
Rae memalingkan mukanya.
“Tidak perlu”
“Eh? Kenapa?”
“Cerewet. Cepat masak sana !”
ucap Rae dingin. Misa tersentak kaget dan ia menundukkan kepalanya. Rae
memasukkan tangannya kedalam saku dan berjalan keluar dapur. Ia menghampiri
sebuah sofa dan berbaring disana, lengan kanannya menutup matanya. Beberapa
detik kemudian hpnya bergetar, Rae mengambil hpnya dan memencet tombol hijau.
“Aktifkan GPS – mu. Kamu harus
segera berada di sana. 5 menit”
Rae menghela napas panjang ‘tidak
ada habisnya. . .’ batinnya dalam hati, ia segera mengaktifkan GPS – nya dan
titik merah muncul.
‘Dasar gila, jam segini mana ada
transportasi yang menuju kesana’ batin Rae kesal, ia berdiri dan mengambil
jaket kulitnya lalu berjalan menuju pintu, saat tangannya meraih hendel pintu,
Misa muncul di belakangnya.
“Hum? Kamu mau kemana? Nasi
gorengnya sudah siap”
“Aku harus pergi. Kau pulang
saja”
“Eh? Ta – tapi aku . . .”
“Aku tidak bisa membiarkanmu
tinggal disini” ucap Rae dingin.
Misa tertunduk sedih “ba –
baiklah . . .”
Ia berjalan pelan menuju pintu
dan keluar bersama Rae.
“Tunggu, kamu mau kemana?”
“Bukan urusanmu”
Rae berjalan meninggalkan Misa
yang menatapnya dengan sendu.
***
Rae sampai di lokasi pertemuan,
ia melihat ada 4 orang yang sudah menunggunya.
“Lama sekali?” gerutu Loki, salah
seorang rekan Rae. Rae yang baru sampai langsung menatap tajam Loki.
“A – aku mengerti . . .” ucap
Loki sambil menelan air liur.
Rae menghela napas, ia menoleh,
berbicara pada Lucita yang berdiri di depannya.
“Ada apa?”
“Salah seorang informan kita ada
yang tertangkap”
“Lalu?” tanya Rae cuek.
Lucita mengambil napas dalam -
dalam, menyabarkan hatinya. Kalau tidak ia bisa menjitak kepala yang
bereskpresi datar di depannya ini, ia kembali melanjutkan kalimatnya.
“Kita harus menyelamatkannya. Ada
kemungkinan informasi kita bisa sampai di tangan musuh”
Rae terdiam. Perutnya berbunyi,
ia memang belum sempat makan apa – apa seharian ini. Ia menghela napas.
“Aku gak ikut”
“Ra – Rae . . .?” Lucita terkejut
mendengar pernyataan Rae barusan
“Kalo hanya 1 orang saja, bisa
kalian selamatkan kan?”
“Ta – tapi . . .”
“Kalau tidak cepat, dia bisa
dibunuh. Aku serahkan semuanya pada kalian”
“Tu – tunggu, Rae . . . kamu
benaran tidak ikut?”
“Jangan bodoh, kalo dari tadi aku
mau menyelamatkannya. Aku pasti akan menanyakan lokasinya padamu”
Loki menggeram, menahan amarah
dan tanpa Rae sadari, kepalan Loki sudah menempel di pipinya. Rae terlempar
beberapa meter dari tempatnya berdiri. 2 orang yang berdiri di belakang
terkejut, mereka segera menghampiri Rae dan membantunya berdiri.
“Apa yang kau lakukan?!!! Kenapa
malah memukulnya?” seru Lucita
“Aku tidak menyangka kalau
seorang pengecut seperti dia bisa menjadi agen 3 tingkat di atas kita” ujar
Loki emosi.
Rae tersenyum sinis, ia bangkit
dan mengusap pipinya yang lebam.
“Pukulanmu lemah”
Loki terperangah, ia berlari dan
hendak memukul Rae lagi tapi ia dihadang oleh Lucita.
“HENTIKAN . . . ! kenapa kalian
malah jadi anak kecil seperti ini?” teriak Lucita menahan amarahnya, ia
merentangkan tangannya lebar – lebar di depan Rae. Loki terdiam, ia memalingkan
mukanya. Rae berdiri dan menepuk bahu Lucita.
“Aku serahkan semuanya padamu”
ucapnya, ia pun berjalan pulang.
“Tu – tunggu, RAE . . . !”
Rae mengacuhkan panggilan Lucita,
ia malah semakin jauh meninggalkan 3 orang rekannya.
***
“Argh . . . sial, sial, sial,
SIAAAL . . . !!!” Loki berteriak sekeras yang ia bisa. Ia menatap Lucita dengan
pandangan penuh amarah.
“Kenapa kau menghalangiku untuk
memukulnya?”
Lucita melirik Loki.
“Kamu tidak tau apa – apa tentang
dia”
Loki naik darah, ia berdiri.
“JELAS aku sangat tau . . . dia
cuma seorang pengecut berhati dingin yang tidak tau kesulitan teman – temannya”
Lucita memandang Loki sengit, ia
segera berdiri dan menampar Loki.
“Jangan bicara seolah – olah kamu
yang paling tau tentang dia” geramnya.
“Aku tidak peduli. Yang aku tau
dia hanya seorang PE – NGE – CUT . . .”
“Kau . . .” Lucita bersiap untuk
menampar Loki lagi tapi dihalang oleh rekan mereka.
“Kalian berdua, hentikan . . .
!!! kita sudah sampai”
Lucita memalingkan mukanya dengan
kesal dan mengintip keadaan luar lewat celah jendela. Ia menatap ketiga
rekannya
“Kita bergerak sesuai rencana”
Mereka semua mengangguk dan
berjalan keluar lewat pintu belakang van. Mereka berjalan menyusuri lorong
sempit dan sepi, Lucita yang memperhatikan alat GPS di tangannya mendadak
berhenti.
“Kita masuk lewat sini.”
Loki memperhatikan sebuah dinding
tebal yang menjulang tinggi di hadapannya. 'Masuk lewat sini? Bagaimana
caranya?’ batin Loki, ia melirik ragu ke arah Lucita dan mengangkat sebelah
alisnya.
Lucita menarik sebuah batu kecil
yang berada di pojok atas sebelah kirinya, tak lama dinding berukuran sedang
terbuka di samping mereka. Loki terkejut melihat itu tapi cepat – cepat ia
menyembunyikan ekspresinya. Salah seorang rekan mereka bertanya pada Lucita.
“Kenapa bisa ada pintu rahasia
disini?”
Lucita menatapnya sebentar lalu
mulai menjawab.
“Karena Rae”
Loki yang semula tidak tertarik,
mulai memasang telinganya baik – baik.
“Maksudmu?”
Lucita melangkahkan kakinya
memasuki lubang yang tadi terbuka.
“Ingat saat ada misi rahasia
tingkat Z a-2e?”
Rekannya mengangguk kecil.
“Sebuah misi rahasia yang
mengharuskan agen itu dihadapi dua pilihan yang sangat sulit, membunuh dirinya
sendiri atau membunuh semua rekan satu timnya”
Lucita mengangguk sambil sekali –
kali melihat layar GPS nya.
“Jalan ini adalah jalan rahasia
yang dibuat oleh Rae sendiri. Tidak ada seorang pun yang tau meskipun itu
adalah pimpinan kita. Hanya beberapa agen yang tau”
“Bagaimana bisa?”
“Karena saat itu Rae mengambil
resiko yang sangat besar, saat dirinya tiba untuk memilih dua pilihan itu. Ia
mengambil pilihan ketiga yaitu membuat terowongan rahasia ini sendiri dan
menyelamatkan rekan – rekan satu timnya”
“Wuah, Rae memang hebat” nada
kagum dari kedua rekannya terdengar oleh Lucita, ia memaksakan senyum tipis di
bibirnya.
“Dan harga yang harus ia bayar
untuk itu adalah menyaksikan seluruh keluarganya mati di depan matanya sendiri”
Seketika kedua orang itu terdiam,
tak percaya pada apa yang Lucita katakan. Begitu juga dengan Loki, ia terpana.
Lucita terdiam dan kembali melanjutkan ceritanya.
“Saat ia membantu rekannya
melarikan diri, kediaman keluarganya dipasang bom. Saat itu ia bisa saja
bernegosiasi, menukar kehidupan temannya dengan kehidupan keluarganya . . .”
Lucita berhenti sejenak, ia memperhatikan layar GPS nya dan berbelok ke arah kiri.
“. . . tapi Rae mengambil resiko,
ia memutuskan untuk menyelamatkan rekannya. Disaat rekannya selamat, Rae
mendapat kabar bahwa rumahnya akan meledak sekitar 10 menit lagi. Ia langsung
melaju menuju rumahnya tapi hanya tinggal 1 meter lagi ia mencapai rumahnya,
rumahnya sudah meledak. Melemparkan tubuhnya jauh beberapa meter. Api membakar
habis rumah serta keluarganya. Rae yang melihat itu hanya bisa terdiam. Saat
itu sifatnya berubah 180 derajat”
Salah seorang rekan yang berdiri
tepat di belakang Lucita meneguk ludahnya perlahan, Lucita tersenyum tipis
melihat rekannya. Ia melrik arlojinya.
“Ceritanya cukup sampai disini,
kita sudah sampai”
Mereka berempat segera membuka
perlahan pintu besi berwarna hijau yang sudah berkarat kemudian masuk satu
persatu tanpa menimbulkan suara, di depan mereka ada 4 lorong panjang yang
sangat gelap.
“Ia ada di sebuah ruangan di
salah satu sudut lorong ini. Sampai disini kita tidak bisa memakai GPS lagi”
selesai mengatakan itu, Lucita mematikan GPS nya dan menyiapkan pistol serta
senter di tangannya.
“Berpencar . . .”
Mereka berempat langsung memasuki lorong yang
ada di depan mereka.
***
Rae berjalan pelan menuju
rumahnya. Dari kejauhan ia melihat seseorang duduk di depan pintu rumahnya, ia
menyipitkan matanya.
“Hah? siapa itu? malam – malam
datang ke rumah?”
Rae bergerak maju, gerakannya
menjadi waspada tapi ketika jaraknya tinggal 1 meter lagi, Rae mendesah
panjang.
‘Astaga . . . apa yang dia
lakukan disini sih?’ batin Rae, ia menatap Misa yang sedang tertidur pulas di
depan pintu rumahnya. Rae menunduk dan terdiam agak lama, ia memperhatikan
wajah Misa yang sedang tertidur.
Kemudian dengan perlahan ia
meraih tubuh Misa dan menggendongnya lalu membawanya masuk ke dalam rumah. Rae
membaringkan Misa diatas kasurnya dan menutupinya dengan selimut. Setelah itu,
ia beranjak ke dapur.
Rae membuka tudung makanan, ia
tertegun ketika melihat nasi goreng buatan Misa masih ada di disitu, ia
menghela napas ‘aku pikir ia sudah membuangnya’ batinnya lalu ia tertawa kecil.
Ia meraih piring nasi itu dan mengambil sebotol sprite dari dalam kulkas lalu
ia makan dalam diam.
Saat meneguk spritenya, Rae
mendengar suara kecil yang berasal dari ruang tamunya. Ia mendengarkan dalam
diam, suara itu kembali terdengar meskipun sangat kecil tapi kali ini diikuti
dengan suara langkah kaki. Rae menaruh piring serta botol spritenya, mengambil
pisau lalu menyelinap dalam kegelapan.
***
Lucita meneguk ludahnya sendiri,
ia sangat benci situasi seperti ini. Mengharuskan dirinya mencari seseorang
dalam ruangan gelap dan tak tau jalan mana yang harus ia tuju. Ia menarik napas
dalam – dalam dan menghembuskannya dengan kuat. Andai saja GPS bisa dipakai
disini, tentu ia tak akan kerepotan seperti ini tapi kenyataannya sinyal GPS
langsung hilang saat mereka tiba di depan 4 lorong tersebut. Bukan apa, ia
hanya ingin kembali ke ranjangnya yang hangat dan nyaman daripada harus repot
mencari seseorang yang tak jelas dimana keberadaannya.
Ia sampai di sebuah jalan
bercabang, Lucita bergantian mengarahkan senternya, membiarkan cahayanya
menelusuri kedua lorong gelap tersebut. Ia kembali menghembuskan napas dengan
kuat. Mempercayai instingnya, ia pun memasuki lorong sebelah kanan
***
Rae perlahan bergerak menyusuri
lorong menuju ruang tamu, telinganya mendengarkan dengan seksama. Suara berisik
itu kembali terdengar, Rae menyiapkan pisaunya dan langsung melemparkan pisau
itu menembus kegelapan, terdengar suara mata pisau menancap di sebuah kayu dan
teriakan seorang perempuan. Rae segera menyalakan lampu.
“Ma – maafkan aku” ucap Misa
sambil menyatukan kedua tangannya seperti orang berdoa.
Rae menghela napas “Apa yang kau
lakukan?”
Misa menunduk, tidak berani
menatap mata Rae.
“A – aku hanya ingin keluar. Jika
aku terus berada disini, kamu pasti akan marah padahal tadi kamu udah
menyuruhku supaya tidak berada disini ta – tapi aku . . .”
Misa tidak meneruskan kalimatnya,
air matanya berjatuhan. Ia mulai menangis. Rae menghela napas panjang, ia
berjongkok dan menatap wajah Misa.
“Bisa jelaskan dari awal?”
Rae memegang tangan Misa dan
menuntunnya ke sofa, ia menjatuhkan badannya dan duduk di sebelah Misa. Siap
mendengarkan cerita cewek itu.
“Aku membunuh orang tuaku” Rae
kaget mendengar pernyataan Misa barusan tapi cepat – cepat ia menyembunyikan
ekspresinya.
“Kejadiannya seminggu yang lalu.
Saat aku berjalan pulang ke rumah, ada seseorang yang menculikku. Ia membawaku
ke suatu tempat di tengah hutan, aku tidak seberapa tau tempat itu karena
selama perjalanan mataku ditutup. Begitu sampai penutup mataku dilepas dan aku
dihadapkan dengan kakakku yang sudah lama hilang . . .” Misa menghentikan
ceritanya, ia menghapus air matanya dan menghela napas, Rae yang melihat itu
berdiri kemudian berjalan menuju dapur.
“Ra – Rae?
0 komentar:
Posting Komentar